Rabu, 13 Desember 2017

Taman Kota Tak Hanya Sekadar Paru-Paru Kota

E-mail Cetak PDF

(BeritaBangunan) Kota yang hijau, damai dan sejuk adalah dambaan bagi setiap warga kota. Apalagi kota yang penuh dengan belantara hutan beton seperti Jakarta. Kehadiran taman kota adalah oase yang menyegarkan raga juga jiwa. 

Bagi sebagian warga kota, pengalaman indah dan menyenangkan ketika berada di ruang terbuka hijau seperti taman kota mungkin belum terlalu terasa. Ini bisa dimaklumi karena kota seperti Jakarta yang luasnya 661,52 km persegi, taman kota yang tersedia masih sangat minim. Akibatnya, banyak warga belum banyak yang merasakan keberadaan ruang-ruang terbuka hijau sebagai paru-paru kota.

Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta menyebut, selama kurun waktu 2001 hingga 2012, luas ruang terbuka hijau (RTH) di Ibu Kota hanya 2.718,33 hektare. Jika dibandingkan dari total luas DKI Jakarta, yaitu 66.233 hektare, angka ini hanya mencapai sekitar 10 persen. Akibatnya dampak secara ekologis begitu terasa di kota ini karena minimnya taman kota.

Pada saat yang bersamaan warga kota kehilangan tempat yang memberikan ruang interaksi sekaligus ruang ekspresi jiwa sebebas-bebasnya. Dalam kajian budaya, ruang terbuka tidak hanya dilihat sekedar lokasi. Ruang adalah praktik sosial yang memiliki makna.

Di kota-kota besar seperti Jakarata masyarakat ‘dipaksa” untuk terbiasa menjadikan mal, kafe, dan tempat-tempat hiburan lainnya sebagai jawaban atau solusi untuk memenuhi kebutuhan akan ruang publik. Namun, tempat ini sesungguhnya tidak mampu menjawab kebutuhan hakiki masyarakat perkotaan yakni ruang terbuka hijau yang olehnya kebutuhan ekologis, sosial dan budaya mereka terpenuhi.

Taman kota menyediakan ruang bagi warga kota yang lebih inklusif dan lebih natural. Inklusif dapat diartikan ruang publik dapat digunakan secara bebas oleh masyarakat. Setiap orang berhak datang tanpa pengecualian karena alasan ekonomi, sosial, atau budaya tertentu. Lebih natural, karena semua orang bisa memanfaatkan taman ini tanpa batasan, tanpa harus memenuhi prinsip etika tertentu.

Para ahli mengatakan ruang terbuka hijau yang baik tak hanya terlihat rapi, hijau, serta bersih. Ruang tersebut baru memiliki makna jika mampu memunculkan gairah para pengunjung untuk datang dan kemudian melakukan aktivitas.

Tengok saja Taman Suropati. Ada komunitas anak-anak muda yang memiliki passion untuk bermain musik. Mereka tergabung dalam Taman Suropati Arts. Kegiatan anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas ini tidak semata-mata diperuntukkan bagi kesenangan atau kepentingan komunitas itu sendiri. Mereka juga membuka peluang bagi pengunjung lainnya untuk ikut terlibat dalam kegiatan, yang pada akhirnya menambah lagi keanggotaan dalam komunitas mereka.



Kabarkan teman anda..
 

CetakCepat.Net @BeritaBangunan