Kamis, 14 Desember 2017

IPW: Bank Dunia Mengada-ada

E-mail Cetak PDF

(BeritaBangunan) Beberapa waktu lalu Bank Dunia mengingatkan Indonesia agar berhati-hati karena bubble peroperti akan segera terjadi. Namun, peringatan Bank Dunia itu dianggap Indonesia Property Watch (IPW), mengada-ada.

Menurut IPW pertumbuhan properti Indonesia yang terus merangkak dalam 3 tahun terakhir tidak akan mengalami bubble atau gelembung ekonomi. Bubble hanya terjadi jika konsumen properti dalam negeri adalah investor asing. Sementara saat ini, investor properti Indonesia masih didominasi lokal sebesar 98%.

Direktur Indonesia Property Watch Ali Tranghanda seperti diwartakan detikFinance, Senin (7/5/2013) mengakui, pasar properti Indonesia memang mengalami kenaikan yang signifikan dalam 3 tahun terakhir. Pembangunan proyek-proyek properti melejit beberapa tahun terakhir. Namun yang terjadi bukanlah bubble melainkan over value.

"Terdapat perbedaan yang prinsip dalam penyampaian kedua istilah tersebut. Fundamental pasar properti Indonesia sangat berbeda dengan pasar properti di negara lain. Dan itu yang dilupakan oleh Bank Dunia," jelasnya.

Menurut Ali ada perbedaan jelas antara pasar properti Indonesia dengan pasar properti di negara lain dimana pasar properti Indonesia didominasi oleh pasar lokal yang kuat.

Singapura, China, dan Vietnam serta negera-negara tetangga lain mengalami bubble karena pasar properti mereka lebih banyak dikuasai oleh asing sehingga ketika terjadi krisis di negara asalnya, akan berimbas terhadap nilai properti di negara tersebut.

Di China, akibat diukanya kran investasi asing besar-besaran telah mengakibatkan dampak bubble bagi properti karena patokan harganya adalah patokan harga dengan daya beli dari luar negeri yang berlipat-lipat sehingga pasar lokal tidak dapat membeli. Inilah yang merupakan bubble sebenarnya karena rentang harga yang terjadi sangat tinggi.

Kasus sub-prime mortgage di Amerika juga tidak bisa disamakan dengan kasus di Indonesia dan sangat jauh berbeda karena fundamental kredit KPR di Indonesia relatif masih konvensional.

Sedangkan di Amerika pasar KPR diperjual belikan berkali-kali dalam sistem derivatif saham yang menyebabkan harga menjadi berlipat-lipat dari aslinya. "Ketika pasar saham anjlok maka gelembung properti akan meletus dan menhantam pasar perumahan di sana," kata Ali.(detikFinance)

 



Kabarkan teman anda..
 

CetakCepat.Net @BeritaBangunan